Diam
bukan berarti aku marah
bukan berarti aku bisu
bukan berarti aku tidak perduli
Diam
bukan berarti aku bodoh
bukan berarti aku bosan
bukan berarti aku tidak mendengar
Diam
bukan berarti semua salah
bukan berarti semua gila
bukan berarti semua tidak masuk akal
Diam
bukan berarti aku mengijinkan
bukan berarti aku melarang
bukan berarti aku menggantung
Diam
bukan berarti aku merajuk
bukan berarti aku mencari masalah
bukan berarti aku membenci
Diam
karena sesuatu tidak dapat diucap
karena sesuatu sulit keluar
karena sesuatu terhalang ego
Diam
karena perasaan tidak dapat berbohong
karena perasaan menemukan jawaban
karena perasaan menyadari suatu hal
Diam
karena tidak cukup kata mengungkap
karena tidak cukup tindakan bekerja
karena tidak cukup lagu dimainkan
Diam
karena ego lebih berkuasa
karena malu menutup langkahku
karena hati tidak ingin mengaku
Diam
karena aku cinta padamu..
Tuesday, June 23, 2009
Monday, December 15, 2008
It's Time To Celebrate
Sunday, December 14, 2008
Waktu dan Pelajaran
Oleh: Ika Devita Susanti
Langit di luar sana terlihat mendung dan murung. Aku bertanya, mengapa dia bersikap seperti itu. Tidak tahukah dia bahwa hatiku sedang gemetar? Tidak tahukah dia bahwa aku sedang menanti-nantikan? Kutengokkan kepalaku ke luar jendela. Ya. Dia masih murung jua. Aku bingung tak karuan. Jemari kakiku mulai membeku. Jantungku berdebar semakin kencang. Bibirku tertutup tak tahu harus berucap apa. Jam di dinding terus berdetak. Semakin cepat. Semakin cepat.
BERHENTI! kataku memohon dengan sangat. Tidak. Dia tidak mau berhenti. Dia menertawakanku. Dia terus berjalan. Suaranya memekakkan telingaku. Tik tok..tik tok.. tik tok... Aku bertambah muram dan marah. Mengapa kamu melakukan hal itu padaku? Mengapa kamu begitu tega mendukakan aku. Dia tersenyum dan mencibir, kemudian membalasku. Ini untuk dirimu. Ini untuk pertumbuhanmu. Dan ini, agar kamu tidak lari lagi.
Surabaya, 14 Desember 2008
Di tengah penantian menunggu sidang skripsi sambil menatap jam yang tidak berhenti berdetak.
BERHENTI! kataku memohon dengan sangat. Tidak. Dia tidak mau berhenti. Dia menertawakanku. Dia terus berjalan. Suaranya memekakkan telingaku. Tik tok..tik tok.. tik tok... Aku bertambah muram dan marah. Mengapa kamu melakukan hal itu padaku? Mengapa kamu begitu tega mendukakan aku. Dia tersenyum dan mencibir, kemudian membalasku. Ini untuk dirimu. Ini untuk pertumbuhanmu. Dan ini, agar kamu tidak lari lagi.
Surabaya, 14 Desember 2008
Di tengah penantian menunggu sidang skripsi sambil menatap jam yang tidak berhenti berdetak.
Friday, May 23, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)

